• Keegan Mahmoud posted an update 1 month, 4 weeks ago

    Bupati Muba Dodi Reza Alex berharap daerahnya menjadi lokasi pusat penelitian karet di Indonesia karena sangat serius dalam program hilirisasi.

    “Sejak awal Muba memiliki komitmen yang sangat besar untuk mengembangkan aspal karet. Hortikultura Kami pun sangat berharap bakal menjadi daerah tempat studi dan riset berkaitan karet,” ujarnya.

    Menurut Dodi, teknologi pengembangan aspal karet akan lebih masif jika berada di daerah sentra penghasil komoditas itu yaitu Kabupaten Muba. Sejauh ini, Pemkab Muba sudah menggandeng Pusat Penelitian (Puslit) Karet Sumbawa di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan untuk mengembangkan produk turunan karet.

    Baca Juga: Kisah Sukses Mbak Bule Bangun Pertanian di Lahan Gersang Legislator Khawatir Pengembangan Program Smart Farming Hanya Latah

    Pada 2021, Pemkab Muba menganggarkan dana senilai Rp36 miliar lebih untuk mengimplementasikan teknologi aspal karet yang sebelumnya telah diujicobakan sejumlah ruas jalan di daerah itu.

    Teknologi aspal karet akan menyerap karet petani dalam bentuk lateks yang diolah di tingkat Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar.

    Penggunaan karet petani dalam aspal karet sudah dirintis sejak tiga tahun terakhir, bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor untuk menemukan teknologi terbaru.

    Pemkab Muba menindaklanjutinya dengan membangun pabrik pengolahan aspal karet bekerja sama dengan Pusat Penelitian Karet dan PT Jaya Trade yang merupakan perusahaan yang sudah melakukan hilirisasi karet.

    Dengan produksi karet 155.303 ton per tahun, Pemkab Muba optimistis 636 ribu ton lateks dapat dihasilkan dan 318 ribu ton lateks pekat dapat diproduksi melalui pabrik itu.

    “Kami mencatat ada potensi serapan lokal dari lateks untuk aspal karet ini mencapai 4,1 juta ton, dengan asumsi campuran karet sebesar 7 persen dari komponen aspal,” kata Dodi.

    Untuk itu, pengembangan teknologi aspal karet menjadi salah satu proyek strategis Pemkab Muba. Tujuannya meningkatkan nilai tambah agar petani menjadi lebih sejahtera.

    Untuk diketahui harga karet tergantung dengan pasar ekspor yang sejak beberapa tahun terakhir hanya berada di kisaran Rp6.000/Kg (dengan masa pengeringan 50 persen) karena terjadi kelebihan suplai di dunia.

    Sementara jika diupayakan adanya serapan dalam negeri, getah karet yang diolah menjadi lateks maka petani bisa menjualnya senilai Rp19.000/Kg melalui UPBB.

    Saat ini produksi karet petani Muba 155.303 ton/tahun dan luas perkebunan 297.000 hektare atau menyasar 83.156 KK.

    Dalam upaya peningkatan nilai tambah komoditas karet ini, Pemkab Muba telah membentuk kelembagaan petani karet melalui 70 UPPB dengan anggota 10.580 KK.(Ant)

    Video terkait: